Senin, 07 November 2016

sistem informasi berbasis kartu cerdas (smart card)


Contoh Penerapan Sistem Cerdas Dalam Bisnis

1. Physical Access Control System Berbasis Smart-Card

Suatu sistem pengaturan terhadap akses secara fisik yang baik adalah suatu jaringan yang terkoordinir antara kartu identitas, mesin pembaca elektronis, databases khusus, software dan jaringan komputer yang digunakan untuk memonitor dan mengontrol “lalu lintas” melalui akses poin.Sistem akses secara fisik berbasis smart card merupakan suatu cara pengamanan yang kuat untuk menjaga asset perusahaan. Kartu identitas duberikan kepada setiap karyawan atau kontraktor dalam perusahaan, yang berisi tentang informasi tentang perusahaan dan  keterangan tentang kemungkinan penggunaan kartu tersebut secara tidak sah dan identitas yang menunjukkan hak-hak pemegang kartu identitas tersebut, yang semuanya dalam keadaan tercetak. Biasanya setiap kartu disertai foto pemegang kartu tersebut. Setiap kartu berisi informasi rahasia tentang pemilik kartu tersebut dan kewenangan yang dimilikinya. Jika seseorang terlibat dalam organisasi atau perusahaan tersebut dia akan menerima kartu identitas yang berarti kewenangan orang tersebut telah tertulis secara akurat dan aman serta telah disosialisasikan melalui sistem (jika beberapa kewenangannya berubah, informasi yang baru tersebut dapat segera di ubah secara aman melalui jaringan tersebut).  Ketika kartu tersebut diletakkan didalam atau dekat dengan pembaca elektronis, ada dua kemungkinan terhadap pemegang kartu tersebut yaitu, kewenangan akses yang ditunjukkan secara akurat dan aman atau penolakan terhadap akses untuk tempat-tempat tertentu (contoh suatu kampus, sebuah areal parkir, bangunan tertentu, kantor atau jaringan komputer tertentu). Ketika orang tersebut keluar dari perusahaan, maka semua kewenangan aksesnya akan dihapus. Segala usaha yang dilakukan oleh orang yang sudah keluar tersebut dimasa yang akan datang untuk memasuki asset perusahaan menggunakan kartu yang sudah kedaluwarsa atau sudah dihapus akan ditolak dan dicatat secara otomatis.

2. Sistem Pengendalian Physical Access

Bagi pengguna, suatu sistem pengendalian akses terdiri dari tiga alemen yaitu :
1)     sebuah kartu atau tanda (identitas yang valid) yang ditunjukkan pada mesin pembaca di pintu.
2)     sebuah mesin pembaca di pintu masuk, yang akan menunjukkan bahwa kartu tersebut valid dan pemegangnya berwenang memasuki areal tersebut.
3)     sebuah pintu atau gerbang yang secara otomatis akan terbuka ketika akses tersebut diijinkan (valid)
Dibalik semua itu terdapat suatu jaringan yang kompleks yang terdiri dari data, komputer-komputer, dan software yang mendukung proses pengamanan. Pada bagian berikut akan diuraikan proses dan kompenen dari sistem pengamanan terhadap akses secara fisik berbasis snart card. Dalam bagian ini akan di ulas bagaimana contact dan contactless card technology digunakan dalam mengontrol akses pada suatu asset atau ruangan atau jaringan tertentu.

3. Proses Access Control

Proses pengontrolan akses dimulai ketika seorang pengguna menunjukkan kartu identitasnya (biasanya berupa kartu pegawai yang berupa smart card, badge atau kartu identitas) ke mesin pembaca, yang biasanya terletak sebelum pintu masuk. Mesin pembaca akan melakukan ekstraksi data dari kartu, memprosesnya dan mengirimkan ke kontrol panel.Mula-mula kontrol panel akan melakukan validasi untuk mesin pembaca kartu tersebutkemudian baru menerima data yang dikirimkan oleh mesin pembaca kartu. Apa yang terjadi selanjutnya tergantung dari apakah sistem tersebut bersifat sentralisasi atau terdistribusi.Dalam sistem yang tersentralisir, kontrol panel akan meneruskan data kepada server pengendali akses. Server pengendali akses akan membnadingkan data yang diterima dari kartu dengan informasi tentang pengguna kartu yang tersimpan dalam database. Software pengendali akses akan membaca dan menunjukkan kewenangan akses dan melakukan otorisasi bagi pengguna kartu, waktu, tanggal pintu masuk yang digunakan dan informasi lainnya yang diperlukan oleh perusahaan untuk menjamin keamanan. Jika pengguna kartu ternyata memiliki akses, maka server pengendali akses akan memberikan tanda kepada kontrol panel untuk membuka pintu. Kontrol panel kemudian mengirimkan dua sinyal, satu untuk pintu yang harus dibuka dan yang satunya kepada pintu pembaca kartu yang berupa sinyal atau suara yang menandakan pengguna kartu tersebut boleh masuk.Dalam sistem terdistribusi,kontrol panel adalah pengambil keputusan apakan pemegang kartu tersebut diperbolehkan masuk atau tidak,. Secara periodic server pengendali akses menyediakan data kepada kontrol panel untuk dapat digunakan oleh software yang berada di kontrol panel mangambil keputusan apakan pengguna tersebut diijinkan untuk mengakses tempat tersebut. Kemudian kontrol panel melakukan seluruh tugas yang dilakukan oleh server seperti tersebut diatas (membuka pintu dan memberi sinyal/tanda). Keuntungan dari sistem terdistribusi ini adalah berkurangnya wajtu untuk komunikasi antara kontrol panel dan server pengendali serta  pusat data, sehingga performa dari sistem  meningkat.Jika sistem biometric atau PIN disertakan dalam sistem tersebut, mesin pembaca biasanya melakukan autentifikasi terhadap data ini. Validasi dapat dilakukan oleh mesin pembaca atau didalam kartu identitas tersebut dengan membandingkan data dengan template biometric atau PIN yang tersimpan dalam kartu(dalam banyak kasus data biometric akan dikirimkan ke kontrol panel untuk dilakukan pemrosesan). Jika informasi tambahan tadi valid, maka mesin pembaca mengirimkan nomer kartu identitas tersebut kepada kontrol panel, tetapi jika identifikasi tadi tidak valid, kemudian mesin pembaca kartu juga mengidentifikasikannya, maka akses tersebut akan ditolak.Respon untuk kartu yang invalid harus didefinisikan terlebih dahulu dalam kebijakan dan prosedur pengamanan perusahaan. Server pengendali dapat mengabaikan data dan tidak mengirimkan kode pembukaan pintu kepada kontroler atau pintu yang tertutup. Hal ini dapat dilakukan dengan mengirimkan tanda kepada mesin pembaca untuk mengeluarkan suara yang berbeda, sebagai suatu tanda bahwa akses tersebut tidak dibenarkan. Hal ini juga dapat dilakukan dengan peralatan security tambahan seperti closet circuit TV dan alarm, yang dapat mengindikasikan bahwa kartu yang tidak sah sedang dicoba digunakan untuk membuka sistem.

4. Komponen Sistem Pengendali Akses

Biasanya sebuah sistem pengamanan akses terdiri dari beberapa komponen antara lain :
·        Kartu identitas (sebuah smart card)
·        Pintu pembaca smart card (smart card reader)
·        Pintu yang selalu terkunci
·        Control panel
·        Sebuah server pengatur pengaturan akses
·        Software dan
·        Database
Penjelasan beberapa komponen utama secara agak mendetail terdapat dalam uraian berikut :
A.    Kartu Identitas
Beberapa kartu identitas yang berbeda digunakan sebagai alat untuk mengendalikan akses ini seperti, pita magnetic, pita wiengand, berrium ferrite, 125 kHz proximity technology, contact smrt card dan contactless smart card. Keseluruhan teknologi tersebut dapat dibuat dalam berbagai bentuk yang menarik seperti bentuk sebuah kunci, badge karyawan atau bentuk lain yang lebih menarik seperti kacamata atau gelang (tangan). Apapun bentuknya pada dasarnya semua kartu tersebut dioperasikan dengan cara yang sama; kartu-kartu tersebut berisi data yang merupakan otentifikasi pengguna atau pemegang kartu.
Beberapa teknologi kartu tersebut bersifat read only, informasi yang ada didalam kartu bersifat permanen, dan ketika kartu tersebut ditinjukkan kepada mesin pembaca, maka informasi tersebut akan dikirimkan kepada sistem. Kartu jenis ini hanya melakukan validasi bahwa informasi yang ada dalam kartu adalah otentik. Kartu tersebut tidak akan memberikan informasi bahwa orang yang memegang kartu tersebut adalah orang yang berhak atau bahkan bahwa kartu tersebut adalah asli.
Teknologi contact smart card yang sesuai dengan standart ISO/IEC 7816 dan teknologi contactless smart card yang sesuai dengan standart ISO/IEC 14443 dan ISO/IEC15693 memiliki kemampuan membaca, menulis dan menyimpan data. Kartu yang menggunakan teknologi ini termasuk peralatan yang memiliki kecerdasan (intelligent devices). Kartu tersebut dapat menyimpan kewenangan, otorisasi dan catatan kehadiran. Kartu tersebut juga dapat menyimpan lebih dari satu PIN dan identitas biometric, serta menawarkan kemampuan untuk melakukan identifikasi dengan banyak cara. Kartu tersebut bukan hanya sebuah penyimpan identitas yang unik, tetapi juga sebuah penyimpan data portable.
B.     Pintu (dengan mesin) Pembaca
Pintu dengan mesin pembaca kartu dapat memiliki lebih dari satu interface, menyesuaikan dengan kombinasi dari teknologi contact dan contactless smart card termasuk suatu penggesek PIN dan pembaca biometric. Bagaimana respon dari mesin pembaca, tergantung pada kartu yang di unjukkan kepadanya dan kebijaksanaan keamanan perusahaan.Jika mesin pembaca digunakan dengan contactless smart card, mesin ini akan bertindak sebagai pemancar dan penerima frekuensi radio dengan kekuatan yang rendah, yang secara terus-menerus mentransmisikan gelombang frekuensi radio atau gelombang elektromagnetik yang dikenal dengan excite field. Ketika sebuah kartu berteknologi contactless berada disekitar excite field, antenna internal yang ada dalam kartu mengkonversi gelombang energi kedalam gelombang listrik yang akan memberikan daya pada chip yang ada dalam kartu. Chip tersebut kemudian menggunakan antene untuk mengirimkan data kedalam mesin pembaca.Jika mesin pembaca digunakan dengan teknologi contact smart card; mesin pembaca harus memiliki sebuah alat yang berfungsi sebagai konektor bagi kartu tersebut. Kartu dan konektor harus melakukan kontak fisik untuk mengirim dan menerima data.Mesin pembaca yang memiliki alat penggesek Pin dan pembaca biometric (biasanya beripa sidik jari atau bentuk tangan) biasanya digunakan untuk mendukung dua atau lebih factor otentifikasi. Jika diperlukan, pada sebuah fasilitas hanya diperlukan pengunjukan contactless smart card ketika resiko keamanan rendah, tetapi suatu saat diperlukan diperlukan juga data biometric jika tingkat keamanan perlu ditingkatkan, atau jika resiko keamanan sangat tinggi, maka orang yang akan mengakses suatu asset atau informasi perusahaan harus menggunakan contact smart card dan memakai pembaca biometric dan memasukkan PIN sebelum mengakses suatu asset. Pembaca serba guna ini dapat digunakan pada saat diperlukan lebih dari dua factor identifikasi dan untuk melakukan verifikasi input berdasarkan waktu dalam sehari, hari dalam seminggu kebutuhan suatu lokasi untuk tambahan factor otentifikasi yang dirancang dalam kebijakan keamanan perusahaan.Ketika mesin pembaca telah menerima data yang diperlukan, biasanya mesin pembaca akan memproses informasi dengan salah satu dari dua cara, yaitu data tersebut langsung dikirim ke kontrol panel (tanpa dianalisa) atau mesin pembaca melakukan analisa data sebelum mengirim data tersebut kepada kontrol panel. Kedua cara tersebut banyak digunakan karena masing-masing cara memiliki keunggulan dan kelemahan sendiri.Cara yang paling sederhana adalah mesin pembaca mengirim data langsung kepada kontrol panel. Dalam hal ini mesin pembaca tidak melakukan analisa apapun untuk mengevaluasi data atau memastikan legitimasi dari kartu tersebut. Kartu semacam ini biasannya merupakan kartu pembaca one factor dan bersifat generic, sehingga mesin pembaca ini dapat dipasang atau dilepas dengan mudah dalam sistem access control.Mesin pembaca yang melakukan analisa data harus dipasang terintegrasi dengan server pengendali akses yang ada. Kartu ini harus mampu menginterprestasikan dan memanipulasi data yang dikirim oleh kartu dan kemudian mengirimkan data tersebut dalam bentuk yang dapat digunakan atau diproses lebih lanjut oleh kontrol panel. Sistem seperti ini dapat meningkatkan level pengamanan. Mesin pembaca dapat memastikan keabsahan dari kartu dan kartu juga dapat mengecek keabsahan dari mesin pembaca tersebut, membandingkan  data biometric atau PIN yang dimasukkan oleh pemegang kartu dan memanipulasi data dari kartusehingga yang dikirimkan oleh mesin pembaca tidak sama dengan yang dibacanya dari kartu. Proses otentifikasi kartu oleh mesin pembaca kartu dan sebaliknay disebut mutual autentification. Mutual autentification adalah salah satu keunggulan dari sistem yang berbasis smart card.
C.    Kontrol Panel
Kontrol panel (sering disebut sebagai kontroler atau biasa juga cukup disebut sebagai panel) bertindak sebagai pusat komunikasi untuk sistem pengendalian akses dalam suatu organisasi atau perusahaan. Panel biasanya meneyediakan sumber tenaga dan interface (peralatan antar muka) dengan berbagai macam mesin pembaca kartu dalam akses poin yang berbeda. Panel tersebut terhubung dengan pintu elektro mekanik yang terkunci dan dapat melayani pembukaan pintu secara otomatis melalui unlocking mechanism untuk memasuki pintu gerbang. Panel juga dapat dihubungkan dengan alarm dan terakhir kontrol panel selalu akan terhubung dengan server pengendali akses.Tergantung dari perancangannya, kontrol panel dapat melakukan pemrosesan data dari mesin pembaca kartu dan server pengendali sistem akses dan membuat keputusan otentifikasi secara langsung, atau panel tersebut hanya melewatkan data yang diperolehnya ke server pengendali sistem akses untuk membuat keputusan. Biasanya kontrol panel membuat keputusan untuk membuka pintu dan melanjutkan pesan tersebut kepada komputer dan memberikan tanda pembukaan pintu kepada mesin pembaca kartu. Sangatlah penting bagi penl dan mesin pembaca untuk menyamanak sinyal pembukaan pintu, karena kontrol panel terletak didalam ruangan atau didalam fasilitas yang aman, sementara mesin pembaca biasanya terletak di ruang yang kurang aman dan terbuka.Akhirnya kontrol panel menyimpan format informasi data. Informasi ini mengidentifikasi bagian data mana yang diterima dari kartu yang digunakan untuk pengambilan keputusan pengendalian akses. Kartu dan mesin pembaca yang menggunakan teknologi yang berbeda dapat melakukan pertukaran data dengan format yang berbeda. Tetapi kontrol panel harus tahu bagaimana menginterprestasikan dan memproses data yang ada. Sebagai contoh, jika mesin pembaca mengirim data dalam format 35 bit dan kontrol panel didesain untuk membaca data dalam format 26 bit, panel harus menolak data tersebut atau memotong 8 bit data yang ada. Format data mengatur bagaimana panel menginterprestasikan data yang diterima.
D.    Server Pengendali Akses
Puncak dari keseluruhan sistem, juga sering disebut sebagai tulang punggung sistem atau induk dari sistem yang mengandung software sistem pengendali akses dan sebuah database. Database tersebut berisi informasi yang up todate tentang hak-hak dari pengguna.Dalam sistem yang terpusat, server menerima data dari kartu melalui kontrol panel. Software menghubungkan data dari kartu dengan data yang ada dalam database, menterjemahkan kewenangan akses seseorang dan mengidentifikasi apakah seseorang dapat diterima. Sebagai contoh, jika seseorang hanya diijinkan untuk mengakses gedung antara jam 8 AM dan jam 5 PM dan saat ini baru jam 7.45AM orang tersebut tidak diperkenankan memasuki gedung. Tetapi, saat waktu menunjukkan jam 08.01 AM maka komputer harus memberikan respon dengan memerintahkan kontrol panel untuk membuka pintu akses bagi orang tersebut.Hampir seluruh sistem bersifat desentralisasi, dalam sistem desentralisasi ini, server secara periodic mengirim informasi tentang pengaturan akses kepada kontrol panel dan kontrol panel akan mengambil keputusan akses secara independen berdasarkan data tersebut.
Format Data Dalam Sistem Pengendalian Akses
Format data dalam sistem pengendalian akses adalah elemen yang sangat kritis dalam perencanaan. Format data merujuk pada aturan jumlah bit yang dikirimkan oleh mesin pembaca kepada kontrol panel. Format data mengatur jumlah bit yang digunakan untuk aliran data dan apa arti dari bit-bit tersebut. Sebagai contoh, beberapa bit awal mungkin dapat mewakili kode fasilitas, bit selanjutnya menunjukkan nomor kartu identitas, bit berikutnya digunakan untuk parity dan seterusnya.Beberapa perusahaan pengembang sistem telah mengembangkan format datanya sendiri sehingga membuat format data yang dikembangkan oleh setiap vendor berbeda satu dengan yang lainnya. Patern format data dalam kunci sebuah pintu, misalnya, format data tersebut akan tetap dirahasiakan demi menjaga orang atau perusahaan yang tidak berhak dalam melakukan duplikasi kartu. Sistem pengendalian akses yang telah ada harus diperhatikan jika kita ingin mendefinisikan teknologi sistem pengendalian akses fisik yang baru.

7. Operational Range

Salah satu karakteristik yang penting dalam pengoperasian sistem pengendalian akses fisik adalah jarak yang efektif dari mesin pembaca dengan kartu identitas yang digunakan, jarak ini disebut operational range. Karakteristik ini dapat mempengaruhi persepsi pengguna terhadap kenyamanan dalam penggunaan sistem tersebut. Untuk sistem yang menggunakan teknologi contact smart card, jelas masalah ini bukan merupakan masalah, karena kartu harus dimasukkan dalam mesin pembaca dan harus terjadi kontak fisik.Operational range dipengaruhi oleh banyak factor, termasuk didalamnya spesifikasi rancangan sistem dan lingkungan dimana mesin pembaca diletakkan. Factor-faktor yang mempengaruhi operational range meliputi ketajaman antenna, jumlah lilitan yang ada dalam antenna, bahan dari antenna, bahan-bahan disekelilingnya,  kemampuan kartu dalam mengenali mesin pembacanya, parameter elektronik dari chip, kemampuan mesin pembaca untuk mengatasi terjadinya kolusi dan panjang dan kekuatan  gelombang  dari mesin pemaca. Beberapa lembaga pemerintaha terlibat dalamusaha menyeragamkan batas transmisi dan frekuensi. Peningkatan operationan range dapat dilakukan dengan memperkuan antenna seperti meningkatkan jumlah koil dari antenna, meningkatkan ukuran antenna atau memperbesar kekuatan transmisi dari antenna tersebut.Letak mesin pembaca dapat mempengaruhi operational range dari mesin pembaca contactless card. Sebagai contoh, kedekatan mesin pembaca dari bahan-bahan metal, dapat mempengaruhi pancaran gelombangnya atau bahkan menutup sinyal dari kartu. Sehingga sebuah mesin pembaca yang diletakkan dalam suatu lempengan logam yang kuat, disebelahnya adalah pintu yang terdiri dari logam semua, atau malah diletakkan dalam wadah yang terbuat dari logam untuk menjaga mesin dari pengrusakan, mungkin akan memiliki operational range yang sangat pendek.Operational range dari kartu identitas untuk suatu peralatan berteknologi contactless merupakan hal yang sangat penting dalam perancangan sistem pengendalian akses secara fisik. Operational range yang tepat merupakan suatu keharusan dalam penyusunan kebijakan pengamanan perusahaan, dan persyaratan arsitektur alat pengamanannya.

 

8. Pertimbangan Keamanan

Untuk mengurangi resiko akibat akses yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak berhak atau membebaskan diri dari ancaman, sistem yang mengendalikan akses masuk kedalam perusahaan harus menjadi pertimbangan yang serius. Perancangan sistem keamanan ini dimulai dengan pembuatan kartu termasuk komponen yang harus ada dalam sistem tersebut seperti jaringan, database, software, hardware, kamera, mesin pembaca dan kartu itu sendiri, pemrosesan sistem seperti prosedur penjagaan dan proteksi data yang berada dalam sistem serta selama proses transmisi. Perancang sistem akan mempertimbangkan tingkat pengamanan yang bagaimana yang harus diimplementasikan berdasarkan lingkungan yang ada disekitar sistem da

Tidak ada komentar:

Posting Komentar